Benar kan, akan ada yang merinduku. Akan ada hati yang terbakar cemburu.
Akan ada hati yang kehilangan.
Sudah kukatakan sedari awal keputusanmu, “Awas saja kamu menyesal”.
Dan ternyata benar, iya kan?
Kecemburuan, kerinduan, dan kehilanganmu kau lampiaskan dengan kata-kata dan tingkah laku penarik perhatianku. Aku tersenyum getir melihat tingkahmu itu. Tingkahmu bukannya membuatku jadi balas cemburu dan tertarik dengan kata-katamu itu, aku malah prihatin dan bahagia. Ya bahagia.
Tau kenapa?
Karena aku jadi tahu seberapa berartinya diriku untukmu. Sebegitu kehilangannya dirimu padaku? Tersirat dari tingkahmu, dan jalinan kata yang kau rangkai saat kita bertukar kata.
Tapi aku prihatin padamu. Caramu menarik perhatianku dan membuatku cemburu begitu hina. Sebegitu salah tingkahnya dirimu padaku? Sampai segala cara kau lakukan untuk mendapatkan perhatianku?
Kasihan.
Setiap kata dan caramu membuatku cemburu sudah terlambat. Rasaku sudah hilang, hatiku sudah ada yang miliki, cintaku untukmu sudah hilang, pergi.
Seperti yang kau inginkan selama ini kan?
Sudah kukabulkan, tapi malah kau minta lagi.
Maaf ya sayang, semua sudah terlambat. Rasaku itu terlanjur hilang lenyap ditelan sang waktu.
Mau kau minta lagi? Sudah tak bisa.
Benar kan apa kataku?